Bertemu Pangdam IM, Rektor UTU Bahas Masalah Pangan di Masa dan Pasca Covid-19
  • UTU News
  • 23. 05. 2020
  • 0
  • 315

MEULABOH - UTU | Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA bersama Tim Ketahanan Pangan Wilayah Barat - Selatan - Tenggara (Barseteng), yaitu Dr. Ir. Alfizar, DAA, Prof. Dr. Ali Sarong, M.Si, Dr. T. Zulham, SE., M.Si dan Dr. Syahril, SE., M.Si melakukan pertemuan dengan Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen Hasanuddin di Kantor Makodam IM Banda Aceh, Rabu (20/05/20).

Rektor bersama tim diterima oleh Pangdam IM yang didampingi Asops Kasdam IM Kolonel Inf Wahyu Dilli Yudha Irawan, Aster Kasdam IM Kolonel Inf M Yamin Dano, Dandim 0101/BS Kolonel Inf Hasandi Lubis dan Waasintel Letkol Cpl Dedi Harahap.

Pertemuan tersebut bermaksud untuk membahas solusi Aceh sebagai lumbung Pangan Nasional dalam masa dan pasca pandemi Covid-19.

Dihadapan Pangdam IM, Rektor Prof. Jasman menyampaikan pandangannya jika Aceh sangat berpotensi dalam pengembangan pangan dalam menguatkan ketahanan pangan menuju pada kedaulatan pangan nasional.

Sejarah membuktikan bahwa Aceh sebagai daerah yang berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional dalam swasembada pangan tahun 1984, dan Presiden Suharto melakukan panen raya di Aceh Barat (sekarang Nagan Raya ) pada tanggal 26 Maret 1986. Sementara luas kawasan Barat-Selatan Tenggara (Ba-Se-Teng) lebih dari setengah Provinsi Aceh, namun populasi penduduknya relatif lebih jarang dibandingkan kawasan timur hanya 34% dari total populasi Provinsi Aceh.

Oleh karenanya potensi lahan yang demikian luas perlu dengan komposisi penduduk dan kepadatan penduduk yang relatif rendah tentunya merupakan peluang yang potensial dalam mengembangkan sektor pertanian sebagai pusat lumbung pangan di Porvinsi Aceh dalam upaya mencapai ketahanan pangan nasional. Kemudian komposisi penduduk ditinjau dari segi usia dimana populasi yang tergolong produktif (15-50 tahun) mencapai 59% artinya potensi ketersediaan sumber daya manusia dalam mengembangkan pertanian merupakan peluang yang relatif besar.

Lebih lanjut Prof Jasman mengatakan di kawasan Barat-Selatan-Tenggara (Bar-Se-Teng) 73% diairi dengan sistem irigasi semi teknis, sementara irigasi teknis belum mencapai separuh dari sistem irigasi di Provinsi Aceh. Sementara potensi pengembangan lahan cukup jauh lebih besar dibandingkan kawasan selain Bar-Se-Teng.

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi tanaman pangan umumnya dan padi pada khususnya adalah meningkatkan sarana irigasi teknis untuk mengairi persawahan dan lahan tanaman pangan petani di kawasan ini. Sebagai contoh di Aceh Barat sudah lebih 16 tahun pembangunan irigasi Lhok Guci hingga sekarang belum selesai. Sebenarnya irigasi ini dapat memenuhi kebutuhan air areal sawah sebesar 5.000 Ha, hal ini perlu percetakan sawah baru.

"Kami berharap dukungan dan saran dari Pangdam IM dalam upaya peningkatan kemampuan aktifitas petani dengan lahan yang tersedia di bagian Barat Selatan Tenggara Aceh, sehingga UTU dapat berperan dalam mewujudkan Aceh sebagai lumbung beras, sebagaimana core pengembangan UTU dibidang Agro and Marine Industries" Harap Prof. Jasman.

Menanggapi hal tersebut, Pangdam IM menyatakan, bahwa Kodam IM siap mendukung dan membantu dalam mengembangkan sektor pertanian di Provinsi Aceh.

Pangdam IM Mayjen Hasanuddin sangat senang atas kedatangan Rektor UTU dan rombongan dan sangat tertarik dengan potensi pengembangan pangan di Wilayah Barseteng, dan perlu ditindaklanjuti yang disampaikan oleh Prof Jasman. Pangdam berjanji akan menyampaikan kepada Pemerintah Aceh (Bapak Gubernur) agar dapat menfokuskan dalam pengembangan pangan. Pengalaman Aceh pada akhir tahun selalu dana tidak terserap optimal, dan ini dapat di gunakan untuk penguatan ketahanan pangan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pangdam IM Mayjen Hasanuddin juga mengatakan hasil produksi gabah Aceh di bawa ke Medan dan diolah jadi beras, kemudian di pasarkan lagi di Aceh. Selanjutnya kebutuhan telor Aceh sebagian besar di pasok dari Medan. Hal ini harus dipikirkan solusinya agar Aceh lebih maju dan berkembang.

Mayjen Hasanuddin mencontohkan pengalaman di daerah kelahirannya bahwa petani berusaha menanam tanaman pangan hanya untuk kebutuhan sendiri. Hal ini berhubungan dengan menset masyarakat yang belum termotivasi untuk lebih agresif dalam mencari kelebihan, maka untuk itu perlu dilakukan berbangai upaya dalam merobah menset masyarakat. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :